JustForex Indonesia : Home /Berita Forex /5 Sebab Dolar Gagal Menguat Pasca NFP Januari

5 Sebab Dolar Gagal Menguat Pasca NFP Januari

Berbagai data yang dirilis di Amerika Serikat minggu lalu gagal mendorong reli Dolar. Tingginya pertambahan Nonfarm Payroll pun dimentahkan oleh laju pertumbuhan upah yang mengecewakan. Namun, sesungguhnya bukan itu saja yang menjadi penyebab mengapa Dolar gagal menguat pasca rilis data NFP Januari pada tanggal 3 Februari lalu. Faktor politik pun disinyalir ikut andil. Berikut ulasan lengkap mengenai 5 event penting dari pasar forex minggu lalu yang membuat Dolar gagal menguat.

1. Pernyataan FED Pasca Rapat FOMC
Pernyataan Federal Reserve pasca rapat FOMC 2 Februari 2017, bahwa tak ada perubahan kebijakan, sebenarnya sudah banyak diperkirakan. Bank sentral AS itu pun terdengar optimis menanggapi data-data ekonomi yang dirilis sebelumnya. Akan tetapi, mereka juga mengakui besarnya unsur ketidakpastian di dalam negeri. Hal ini menjadikan pelaku pasar mewanti-wanti kemungkinan FED bakal tak memenuhi estimasi tiga kali kenaikan suku bunga yang dicanangkan pada rapat FOMC Desember.

2. Pertumbuhan Gaji Melambat
Laporan NFP yang dirilis Jumat lalu menyebutkan kenaikan jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian sebanyak 227,000, tertinggi dalam empat bulan terakhir. Namun, tingkat pengangguran naik dari 4.7% ke 4.8%. Rerata gaji perjam juga hanya naik 0.1%, jauh di bawah estimasi 0.3%. Terlebih lagi, pertumbuhan gaji untuk bulan Desember direvisi turun ke 0.2% saja.

Efeknya, pasar yang tengah tegang pasca FOMC langsung menyusutkan ekspektasi kenaikan suku bunga FED dalam waktu dekat. FED Funds Futures yang kerap dipantau untuk melihat indikasi seberapa tinggi ekspektasi pasar akan Rate Hike, langsung menghapus harapan kenaikan di bulan Maret, dan menaikkan prospek kenaikan di bulan Juni hingga lebih dari 60%.

“Ekspektasi pada FED yang mereda pada akhirnya adalah kesimpulan terbesar yang kita dapat dari laporan (NFP) tersebut,” kata Marvin Loh, Pakar Strategi Pasar Global Senior di BNY Mellon Boston, pada Reuters, “Ini bukan berarti kita membaca laporan ini sebagai indikasi situasi ketenagakerjaan yang lebih lemah, hanya saja ada lebih banyak kelemahan daripada yang ditunjukkan oleh angka tingkat pengangguran. Dan profil kenaikan suku bunga yang kurang agresif mendorong dolar lebih lemah.”

Senada dengan itu, Jameel Ahmad, Kepala Analis Pasar di FXTM, mencatat,”Meski Federal Reserve kemungkinan akan terus menggarisbawahi bias publik mereka untuk tiga kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini, data (NFP) ini tak cukup meyakinkan untuk mendorong bank sentral percaya diri ‘menarik pelatuk’ selambat-lambatnya sebelum Mei. Nuansa ketidakpastian mengenai kejelasan apa yang bisa disediakan pemerintahan Trump mengenai rencana stimulus fiskal mereka, berkontribusi pada konsensus bahwa FED akan ‘wait and see’ memantau perkembangan (terlebih dahulu).”

3. AS Jatuhkan sanksi pada Iran.
Menurut sebagian analis, dibanding data ekonomi, hal yang paling menggerakkan Dolar minggu lalu adalah Surat Perintah Eksekutif Presiden Donald Trump yang memblokir arus imigrasi dari tujuh negara. Surat Perintah yang muncul mendadak itu bukan hanya mengakibatkan demonstrasi di jalanan AS, melainkan juga memicu kekhawatiran tentang tindakan anti-globalisasi apalagi yang akan dilakukan Trump.

Dan benar saja. Pada Jumat lalu, AS menjatuhkan sanksi atas puluhan pebisnis dan individual dari Iran, China, dan Uni Emirat Arab, atas tuduhan mendukung program misil balistik Iran. Sanksi ini merupakan yang pertama kali dirilis setelah Teheran berhasil mencapai kesepakatan dengan AS dan sekutunya di tahun 2015.

Bukannya mendapat pujian dari pasar, langkah Trump menghakimi upaya negara lain untuk memperkuat keamanan negerinya ini malah membuat pelaku pasar jadi makin negatif pada Dolar. Indeks Dolar pun berbalik mendekati level terendah dalam lebih dari dua bulan.

4. Trump Lebih Suka Dolar Melemah.
Pekan lalu juga, Trump lagi-lagi menuduh Jepang sengaja melemahkan mata uang Yen untuk meningkatkan daya saing produknya di kancah internasional. Tuduhan tersebut ditepis oleh Bank of Japan (BoJ) dan PM Shinzo Abe. BoJ dengan tegas menyatakan kebijakannya ditujukan untuk menggenjot inflasi, bukan melemahkan mata uang. Abe bahkan menyatakan bahwa perkara nilai tukar mata uang bukanlah sesuatu yang layak didiskusikan pemimpin negara, karena nantinya akan membawa kebijakan forex ke wilayah politik.

Sejauh ini, belum diketahui tindakan apa yang bakal diambil Trump atas negara-negara yang dituduhnya sengaja melemahkan mata uang. Namun, dapat disimpulkan bahwa ia tak suka posisi Dolar lebih kuat dibanding mata uang lainnya.

5. AS Melawan Trump?
Satu hal lain yang barangkali luput dari pemantauan banyak orang adalah terbelahnya respon warga AS pada kebijakan-kebijakan Trump. Sejumlah negara bagian dengan tegas menyatakan takkan melaksanakan beberapa perintahnya. Dan hingga kini, dua minggu setelah pelantikan Trump, aksi menentangnya dengan seruan “Not My President” masih terus berlangsung. Perlawanan pun telah masuk ke ranah hukum.

Akhir pekan lalu, seorang hakim memblokir penerapan Surat Perintah Trump tentang imigrasi di seluruh AS. Surat perintah yang melarang imigrasi dari tujuh negara itu dibatalkan karena dinilai “berdampak buruk bagi warga AS di sektor ketenagakerjaan, pendidikan, bisnis, hubungan keluarga, dan kebebasan untuk bepergian”. Sebelumnya, beberapa hakim lain di berbagai negara bagian telah mementahkan sebagian isi Surat Perintah yang sama.

Meski Trump dan timnya tengah mengajukan banding atas putusan tersebut, tetapi hal ini menggarisbawahi besarnya ketidakpastian di era Trump. Kebijakan Presiden bisa segera dihapus oleh pihak lain, karena langkah-langkahnya diambil tanpa pertimbangan yang matang atas efek kebijakan dan seberapa besar kekuasaan yang dimilikinya untuk mengambil keputusan tersebut.

Previous post:

Next post: